I’rob dan Syarah Hadits Nafsu Orang Mu’min


عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ :
لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَى يَكُوْنَ هواه تَبِعًا لِمَاجِئْتُ بِهِ
.( حديث حسن صحيح, رويناه فى كتاب الحجة بإسناد صحيح)

I’rob

لاَ Harfu nafi
يُؤْمِنُ Fi’il mudhari marfu’ tandanya dhamah
أَحَدُكُمْ أَحَدُ adalah fa’il marfu tandanya dhamah dan kalimat ini merupakan idhafah
حَتَى Huruf khusus (disebut harfu ghayah) yang menashabkan fi’il mudhari
يَكُوْنَ Fi’il mudhari naqish manshub karena terkena harfu ghayah
هواه Isim “Kana” marfu dan dia idhafah
تَبِعًا Khabar “Kana”manshub tandanya fathah
لِمَا Jar majrur, “Maa” adalah isim maushul
جِئْتُ بِهِ Shilah maushul

Terjemahan

“Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amru bin ‘Ash berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidaklah seorang itu beriman hingga ia menjadi pengikut dari ajaran yang aku bawa”. (Hadits Hasan Shahih kami riwayatka dalam buku al Hujjah dengan isnad shahih).

Syarah

Sempurnanya Iman

Sempurnanya iman hanya bisa diraih dengan menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti semua petunjuk Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan mendahulukan kehendak Rasulullah atas kehendak dirinya terutama ketika terjadi pertentangan kehendak. Demikianlah banyak ayat dan hadits yang semakna dengan hadits ini. Walau secara sanad hadits ini didho’ifkan oleh banyak ulama.

Penafian iman di sini diartikan sebagai penafian kesempurnaa bukan penafian keseluruhan, karena penafian itu ada dua macam. Penafian iman total dan penafian kesempurnaannya.

Hadits ini semakna dengan firman Allah : “Demi Tuhanmu, mereka tidak dikatakan beriman sebelum mereka berhukum kepada kamu mengenai perselisihan sesama mereka dan mereka tidak merasa berat hati atas keputusan kamu serta menerima dengan pasrah sepenuhnya”. (QS. 4 : 65)

Asbabul Wurud

Sebab turunnya ayat ini ialah karena Zubair bersengketa dengan seorang sahabat dari golongan Anshar dalam perkara air. Kedua orang ini datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mendapatkan keputusan. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Wahai Zubair, alirkanlah dan tuangkanlah air kepada tetanggamu itu”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan kepada Zubair untuk bersikap memudahkan dan toleransi. Akan tetapi, sahabat Anshar itu berkata :

“Apakah karena dia anak bibimu?” Maka merahlah wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian sabda beliau : “Wahai Zubair, tutuplah alirannya sampai airnya naik ke atas pagar kemudian biarkanlah hingga tumpah”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan hal semacam itu untuk memberi isyarat kepada Zubair bahwa apa yang diputuskan beliau mengandung mashlahat bagi golongan Anshar. Tatkala orang Ashar memahami sabda Nab Shallallahu ‘alaihi wa Sallam itu, maka Zubair menyadari apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Karena kejadian itulah ayat ini turun.

Hadits yang shahih dari Nabi , beliau bersabda : “Demi diriku yang ada di dalam kekuasaan-Nya, seseorang di antara kamu tidak dikatakan beriman sebelum ia mencintai aku lebih dari cintanya kepada bapaknya, anaknya, dan semua manusia”.

Abu Zinad berkata : “Hadits ini termasuk kalimat pendek yang padat berisi, karena di dalam kalimat ini digunakan kalimat yang singkat tetapi maknanya luas. Cinta itu ada tiga macam, yaitu cinta yang didorong oleh rasa menghormati dan memuliakan seperti cinta kepada orang tua, cinta didorong oleh kasih sayang seperti mencintai anak dan cinta karena saling mengharapkan kebaikan seperti mencintai orang lain”.

Ibnu Bathal berkata : “Hadits di atas maksudnya —Wallaahu a’lam— adalah barang siapa yang ingin imannya menjadi sempurna, maka ia harus mengetahui bahwa hak dan keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih besar daripada hak bapaknya, anaknya dan semua manusia, karena melalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam inilah Allah menyelamatkan dirinya dari neraka dan memberinya petunjuk sehingga terjauh dari kesesatan. Jadi, maksud Hadits di atas adalah mengorbankan diri dan jiwa untuk membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berperang melawan bapak mereka atau anak mereka atau saudara mereka (yang melawan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam). Abu Ubaidah telah membunuh bapaknya karena menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Abu Bakar menghadapi anaknya, Abdurrahman, dalam perang Badar dan hampir saja anak itu dibunuhnya. Barang siapa melakukan hal semacam ini, sungguh ia dapat dikatakan kemauan-kemauannya tunduk kepada apa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya.

Wallahu’alam
الحمد لله رب العلمين

One thought on “I’rob dan Syarah Hadits Nafsu Orang Mu’min

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s