Ikutan MLM “yang syar’i?” nggak yah…?


Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh

Ana tidak pernah sekalipun bergabung bahkan berhubungan dengan usaha MLM, alasannya karena memang ana kurang tertarik, kedua ana mendengar bisnis MLM tidak boleh katanya sih model bisnisnya Yahudi, tetapi hukum syar’i sebenarnya ana belum tahu.

Baru-baru ini, tiba-tiba datang surat undangan dari seseorang teman yang baru tiga hari kenalan, untuk menghadiri seminar sebuah MLM “anu” yang menyatakan diri sebagai MLM berbasis syariah berasal dari negeri jiran. Justru dari sinilah, karena terbentur persoalan hukum mahu tak mahu ana harus pelajari fikh boleh tidaknya ber-MLM sebelum hari H supaya selamat dan ada modal untuk bertanya.

Biar instan mendapatkan resource ana googling aja. Alhamduilillah banyak juga artikel yang membahas MLM, salah satu yang ada dapatkan dari situs http://www.syariahonline.com atau link lengkapnya http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1. Tetapi ana kurang berpuas hati. Kemudian ana mendapatkan fatwa dari Syeikh Salim Al-Hilali dan fatwa dari Markaz Syeikh Al-Bani, tetapi ana juga kurang berpuas hati sebab ilat yang menjadi keharamannya masih samar dalam pemahaman ana dan supaya ana terhindar dari taqlid fatwa syeikh tanpa mengetahui hujahnya sekalipun taqlid dalam persoalan non aqidi diperbolehkan.

Singkat cerita ana hadir sekalipun ana tahu ini acara perekrutan member baru, dengan niatan ingin mengetahui sistem MLM “berbasis syariah”.

Ternyata memang, yang namanya MLM baik yang mengaku syar’i maupun tidak memiliki basis sistem yang tidak jauh berbeda, MLM “ini” juga tidak lepas dari dua sistem dasar yang dipersoalankan syareat:

  1. Diharuskan menjadi member untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas dan keuntungan tertentu dengan membayar uang registrasi, kemudian pihak perusahaan akan memberikan suatu produk tertentu, artinya member membeli produk yang belum tentu diinginkan sekalipun dengan bahasa mendaftar dan otomatis dapat produk . Perusahaan juga memberi tugas kepada member untuk menjualkan produknya atau merekrut member baru (bahasa lainnya memperkerjakan sebagai makelar).
  2. Member baru ini sebagai seorang makelar, apabila memiliki downline, secara otomatis akan mendapatkan keuntungan baik berwujud bonus, point dll jika downline atau konsumen di luar member membeli produk via downline. Secara otomatis uplinenya member baru ini juga akan mendapatkan keuntungan juga.

Member juga berfungsi sebagai makelar (simsar)? Pertama ana mendapatkan makalah dari ust. Hafizd Abdurrahman kaget juga, ternyata posisi member aktif itu makelar toh. Sebab member tidak memiliki produk, dia hanya menjualkan atau menawarkan produk.

Persoalan Pertama

Diharuskan menjadi member untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas dan keuntungan tertentu dengan membayar uang registrasi, kemudian pihak perusahaan akan memberikan suatu produk tertentu, artinya member membeli produk yang belum tentu diinginkan sekalipun bahasanya mendaftar dan otomatis dapat produk . Perusahaan juga “melantik” member menjadi makelar (simsar).

Aktivitas seperti ini sepertinya halal secara syar’i, tetapi ternyata terkandung syubhat bahkan keharaman akad, di antaranya:

  1. Adanya Goror (yaitu terdapatnya jahalah /kesamaran) dan terkandung unsur penipuan. Mengapa? Karena samar/kabur antara akad jual beli, syirkah (transaksi berujud barang) dan mudharabah (bagi hasil). Pihak pembeli setelah menajadi member juga berfungsi sebagai pekerja makelar yang akan memasarkan produk ke calon pembeli (konsumen luar) atau calon member baru. Maka ini termasuk transaksi aqad mu’awadat (kontrak pertukaran hak kepemilikan harta).
  2. Adanya pemaksaan secara sangat halus. Pihak member untuk memperoleh keuntungan-keuntungan yang lebih harus memasarkan produk perusahaan dan atau merekrut member baru. Bahkan dalam MLM “ini” ada program percepatan karir bagi member yang ingin segera menduduki peringkat level yang lebih tinggi dengan mengikuti program tertentu, membayar sekian rupiah (walau katanya juga disubsidi jadi bayarnya murah) dan timbal baliknya perusahaan mewajibkan member untuk menjual produknya pada bulan ini sebanyak jumlah tertentu, jika gagal memenuhi target maka kenaikan pangkat gagal.
  3. Adanya transaksi yang Rasulullah saw sebut shofqatain fi shofqah atau bay’atain fi bay’ah, yaitu suatu jual beli terdapat dua akad dalam satu transaksi. Akad pertama adalah akad jual-beli (bay’), sedangkan akad kedua akad samsarah (pemakelaran).

Dari tiga point diatas, transaksi bay’atain fi bay’ah merupakan indikasi yang paling penting dan paling jelas larangannya. Terdapat banyak hadist yang menerangkan larangan ini baik dengan lafal la yahilu/la tahilu (tidak dihalalkan), maupun naha (melarang) yang dalalahnya berarti haram.

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah ra. Yang menyatakan: “Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.” (Ahmad berkata: perawinya tsiqat/terpercaya).
  2. Hadits dari al-Bazzar dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan: “Rasululllah Saw telah melarang dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”
  3. Hadits yang senada dikemukan oleh at-Thabrani dalam kitabnya, al-Awsath, dengan redaksi sebagai berikut: “Tidaklah dihalalkan dua kesepakatan (aqad) dalam satu kesepakatan (aqad).”
  4. Hadits Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban dari ‘Amr bin Syuyb, dari bapaknya, dari kakeknya, dengan redaksi: “Tidak dihalalkan salaf (akad pemesanan barang) dengan jual-beli, dan tidak dihalalkan dua syarat dalam satu transaksi jual-beli.”

Hadits ini menegaskan larangan dalam konteks hadits sebelumnya, dengan disertai contoh kasus, yaitu akad salaf, atau akad pemesanan barang dengan pembayaran di depan, atau semacam inden barang, dengan akad jual-beli dalam satu transaksi, atau akad. Untuk mempertegas konteks hadits yang terakhir ini, penjelasan as-Sarakhsi —penganut mazhab Hanafi— bisa digunakan. Beliau juga menjelaskan, bahwa melakukan transaksi jual-beli dengan ijarah (kontrak jasa) dalam satu akad juga termasuk larangan dalam hadits tersebut.* (Dinukil dari tulisan ust. Hafidz Abdurrahman di http://faridmaruf.wordpress.com/)

Imam Asy-Syafi’i memberikan keterangan terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu pembelian), dengan menyatakan:
Jika seseorang mengatakan: “Saya jual budak ini kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi milik saya, sayapun menetapkan milik saya menjadi milik anda.”

Dalam konteks ini, maksud dari bay’atayn fi bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun, masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain, sehingga terjadilah dua transaksi tersebut include dalam satu aqad. Begitu pula kasus pada MLM “ini”.

Persoalan Kedua

Seandainya ana seorang member baru, maka ana berusaha membangun jaringan di bawah ana (downline), kita sebut A, maka status ana naik satu tingkat menjadi upline. Kemudian downline ana berhasil membangun jaringan lagi, kita sebut B, sehingga ana memiliki dua downline.

Ana menjadi makelar perusahaan bagi si A dan si A menjadi makelar bagi si B. Status ana berarti memakelari makelar atau pemakelaran atas pemakelaran, fiqh mengistilahkannya dengan samsarah ala samsarah.
Hukum makeler itu sendiri dibolehkan menurut syara’ sebagaimana disebutkan hadist yang diriwayatkan oleh ays bin Abi Ghurzah al-Kinani, yang menyatakan:

“Kami biasa membeli beberapa wasaq di Madinah, dan biasa menyebut diri kami dengan samasirah (bentuk plural dari simsar, makelar), kemudian Rasulullah Saw keluar menghampiri kami, dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik daripada sebutan kami. Beliau menyatakan: ‘Wahai para tujjar (bentuk plural dari tajir, pedagang), sesungguhnya jual-beli itu selalu dihinggapi kelalaian dan sesumpah, maka bersihkan dengan sedekah’.”

Makelar yang dibolehkan dengan persyaratan harus sesuai dengan definiskan ulama sebagai berikut:

  1. ”Simsar adalah sebutan untuk orang yang bekerja untuk orang lain dengan kompensasi (upah atau bonus). Baik untuk menjual maupun membeli.” Definisi dari Asy-Syarakhsi.
  2. “Jika (seseorang) menunjukkan dalam transaksi jual-beli; dikatakan: “saya telah menunjukkan anda pada sesuatu”; jika anda menunjukkan kepadanya, yaitu jika seorang pembeli menunjukkan kepadanya, maka orang itu adalah simsar (makelar) antara keduanya (pembeli dan penjual), dan juga disebut dalal.” Definisi dari Muhammad bin Abi al-Fath, penganut madzhab Hambali dalam kitabnya, al-Mutalli’.

Dari batasan-batasan tentang pemakelaran di atas, bisa disimpulkan, bahwa pemakelaran itu dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, yang berstatus sebagai pemilik (malik). Bukan dilakukan oleh seseorang terhadap sesama makelar yang lain.

Karena itu, memakelari makelar atau samsarah ‘ala samsarah tidak diperbolehkan. Sebab, kedudukan makelar adalah sebagai orang tengah (mutawassith). Atau orang yang mempertemukan (muslih) dua kepentingan yang berbeda; kepentingan penjual dan pembeli. Jika dia menjadi penengah orang tengah (mutawwith al-mutawwith), maka statusnya tidak lagi sebagai penengah. Dan gugurlah kedudukannya sebagai penengah, atau makelar. Inilah fakta makelar dan pemakelaran. (Dinukil dari tulisan ust. Hafidz Abdurrahman di http://faridmaruf.wordpress.com/)

Sisi lain dari keharaman samsarah ala samsarah, menurut Prof. Dr Abdus Satar Abu Ghudah dari Majma’ Fiqh Islami, terdapat unsur:

  • Memakan harta orang lain dengan batil (4:29).
  • Judi.

Alasanya, karena seolah-olah ada kesepakatan untuk meletakkan syarat kepada downline bahwa keuntungan sebagian akan diberikan kepada uplinenya.

Walhasil, ana sekarang paham hukum MLM secara jelas, nggak taqlid lagi atau ngikut katanya syeikh, walhamdulillah dan jazahumullah kepada teman yang telah mengajak ana ikutan MLM “ini”, dengan ajakan ini ana dapat satu ilmu baru. Banyak juga ulama yang secara tegas mengharamkan bisnis MLM diantaranya fatwa dari Syeikh Salim Al-Hilali dan Lajnah Daimah namun karena bentuk MLM bermacam-macam maka dengan mengetahui asas ilat-nya dan asas bentuk MLM-nya kita akan mendapatkan keputusan yang paling ahsan terhadap suatu MLM, terlebih yang mengaku syari’i.

Yang ana sesalkan, mengapa MLM “ini” gampang sekali mengklaim sistem marketingnya sah secara syareat dengan hujah dibimbing oleh dewan syareat yang diduduki oleh para ahli yang mumpuni. Bahkan katanya, MLM ini bertujuan sebagai penopang dakwah dan ekonomi umat. Itulah yang namanya label atau slogan walaupun pada hakekatnya jauh panggang daripada api. Kecap ABG mengklaim dirinya sebagai kecap asli nomor satu padahal kenyataannya setelah dicicipi rasanya ngawur. Jika para ustadznya, dai’nya, aktivis dakwahnya, mualimnya terjebak dalam talbis iblis ini bagimana dengan mad’unya? Persoalan ini tidak menyempit pada hukum MLM “ini” tetapi melebar kepada penyesatan dan dakwah tolong menolong pada dosa dan permusuhan.

Karena itu kita tidak boleh magrur (tertipu) dengan lebel. Perlu dimaklumi bahwa tidak setipa nama dan sebutan yang indah bagus dan cantik itu berarti barang atau sesuatu yang disebutkan juga (pasti) indah, bagus dan cantik. Seorang wanita yang bernama Jamilah, Hasanah, Shalihah belum tentu akhalq dan parasnya cantik dan seindah namanya bahkan tidak sedikit wanita yang namanya seindah itu, tetapi banyak melakukan maksiat dan hobbinya menggunjing, mencela dan menjuluki orang-orang beriman dengan julukan-julukan yang tidak senonoh. Seorang laki-laki yang bernama kholis, amin, sholeh belum tentu mereka benar-benar murni imannya bersih dari segala syirik, sebagai orang yang dapat dipercayai dan beramanah serta betul-betul seorang yang sholeh.

Ana tidak menafikan kehalalan produk dan besarnya manfaat produk tersebut bagi kaum muslimin, yang jadi soal adalah sistem marketingnya.

Khatimah

Dari paparan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Bisnis MLM tidak bisa dihukumi halal jika hanya berdasarkan produk yang dijual adalah barang yang halal. Harus diamati juga, apakah sistem MLM yang dijalankan melanggar hukum syara’ atau tidak. Memang kita diwajibkan dalam berdagang hanya menjual barang yang dihalalkan oleh syara’, diharamkan menjual khamr, anjing, babi, salib, dan lain-lain. Tetapi sistem perdagangannya juga tidak boleh melanggar hukum syara’, seperti: berbohong, menimbang dengan curang, menipu dengan menjual buah-buahan yang busuk, satu transaksi dengan dua akad, dan lain-lain. Artinya, dalam perdagangan dua hal harus dipenuhi: jenis barang dan sistem peragangan.
  2. Transaksi MLM yang umum berlangsung telah melanggar dua hukum syara’:
    • Melakukan satu transaksi dalam dua akad, shafqatayn fi shafqah untuk jasa atau bay’atan fi bay’ah untuk barang. Pada saat yang sama seorang anggota MLM menjadi pembeli sekaligus makelar bagi perusahaan.
    • Terjadi aktifitas memakelari makelar (shamsarah ‘ala shamsarah), seorang up line (makelar) menawarkan produk kepada down line (makelar berikutnya). Padahal produk yang ditawarkan up line tersebut bukan miliknya, ia hanya berfungsi sebagai makelar dan tidak berhak mencari makelar lainnya (down line).

Jika kita melakukan aktifitas yang diharamkan oleh syari’at Islam, maka uang hasil usaha tersebut tentu haram juga. Dan setiap uang haram akan dipertanggung-jawabkan nanti di Yaumil akhir nanti serta doa tidak akan mustajab, “fa aina yustajabu lahu…..?”.

Terakhir, teliti sebelum membeli, ilmu sebelum beramal.

Untuk penelusuran lanjut silahkan klik url berikut:
1.http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1
2.http://azharku.wordpress.com/?openidserver=1 Keterangan oleh ust Hafidz Abdurrahman yang elok, jazahumullah khairan.
4.hayatulislam.net
5.www.zaharuddin.net Keterangan yang disampaikan oleh ust. Zaharuddin lengkap dan berkesan namun berbahasa Melayu jadi agak susah memahaminya, jazahumullah kkhair.
6. http://www.islam-qa.com

Wallahu alam.

Wa billahi taufiq wal hidayat. Wassalam.

7 thoughts on “Ikutan MLM “yang syar’i?” nggak yah…?

  1. Assww, penjelasannya menarik sekali, saya juga dulu adalah distributor MLM, tapi setelah membaca banyak artikel, ternyata lebih banyak yg mengharamkannya daripada yg membolehkannya, daripada syubhat, lebih baik ditinggalkan,, terimakasih atas infonya
    Wassww

  2. Jazakumullah kepada seluruh ikhwah pembaca artikel MLM ini, semoga kita semua selamat dari persoalan harta syubhat apalagi haram, karena bukan hanya berkaitan dengan barakah…

    lebih dari itu doa kita NDAK MAQBUL.

    Semoga Allah yang Maha Luas Rizkinya, selalu membagikan rizki toyyib kepada kita semua.

    amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s