Dalam Al-Qur’an, kadang Allah menggunakan kata نظر dan kadang رأي. Contohnya dalam surat Al-Ghasyiah: 7:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta (terj depag)
Dengan menggunakan رأي contohnya dalam ayat Al-Fil:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? (terj depag)
Depag tidak membedakan penerjemahan kata نظر dalam surat Al-Ghasiyah dan رأي dan surat Al-Fil, semuanya diterjemahkan “memperhatikan”, mari kita coba teliti agar memperoleh penerjemahan yang mendekati dengan makna yang diinginkan Al-Qur’an, agar keindahannya tampak.
Arti نظر
Arti نظر yaitu: penggunaan panca indera penglihatan dengan penggunaan penalaran (akal/fikir).
Jadi أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ maknanya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan dan meneliti unta (bagaimana ia diciptakan).
Allah tidak hanya meminta untuk melihat unta dengan indera penglihatan namun Allah juga meminta untuk menelitinya (berarti perlu ilmu biologi dan cabang-cabangnya ya?).
Contoh ayat lainnya:
فَنَظَرَ نَظْرَةً فِي النُّجُومِ
Lalu ia benar-benar memandang dan berfikir (bernalar) ke bintang-bintang. (As-Shafat: 88)
Namun ada juga ayat yang maknanya hanya berfikir seperti firman Allah:
انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)“. (Al-An’am: 65)
Arti رأي
Yaitu: Penggunaan indera penglihatan saja.
Maka أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
Terjemahannya yaitu: Apakah kamu (Muhammad) tidak memperhatikan melihat bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
Perhatikan: Ayat ini khitobnya kepada Rasulullah saw. Beliau lahir pada tahun gajah, 50 hari setelah peristiwa hancurnya tentara bergajah.
Contoh ayat lain:
فَلَمَّا رَأَىٰ قَمِيصَهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِن كَيْدِكُنَّ ۖ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”. (Yusuf: 28)
Hanya dengan bukti fisik saja, Zulaiha terbukti telah melakukan penipuan.
فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ
Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Al-Qoshos: 31)
Nabi Musa langsung lari tatkala melihat tongkat menjadi ular tanpa menalar lebih dahulu.
Wallahu alam.
Dan salah satu lagi, kenapa nadzor (dalam sebuah proses ta’aruf syar’i) disebut nadzor, bukan Ro’a, biar yang nadzor tidak sekedar melihat saja tapi juga memperhatikan, merenungi, meneliti, menalar, dst …
Shahih Umm, dari kemarin ana udah kepikiran mau nulisnya.
تحياتي
[...] dalam katagori mentadaburi kekuatan bahasa Al-Qur’an نظر melanjutkan tadabur sebelumnya. Allah berfirman tentang kisah pengelakan Nabi Ibrahim tatkala diajak mengikuti festifal ibadah [...]