Kekuatan Makna Surat Al-Ashr


وَالْعَصْرِ (wal ashri) dalam terjemahan depag diartikan “demi masa”, al-ashri artinya masa.

Menurut para mufasirin dan ahli lughah, al-ashri mengandung tiga arti:
1. Az-zaman (zaman/masa)
2. Al-umru (umur/usia)
3. Al-waqtu (waktu; jam, menit, detik dst)

Kita lihat bahwa depag hanya mengambil arti az-zaman saja dalam memaknai kata al-ashri, sedang arti al-umru dan al-waqtu seolah diabaikan. Dengan mengabaikan kedua arti tadi akan mengurangi makna sebenar yang diinginkan Al-Qur’an.

Allah bersumpah dengan al-ashr pada awal surat pendek ini, bersumpah dengan zaman/masa, bersumpah dengan umur dan bersumpah dengan waktu.

Al-ashr adalah sesuatu yang paling berharga yang dikaruniakan Allah pada manusia. Sebab dengan al-ashr manusia dapat beribadah kepada Allah ta’ala, dengan adanya al-ashr Allah diibadahi.

Jika manusia memanfaatkan secara maksimal umurnya, waktunya dan hari-hari yang dia lalui untuk menegakkan dan meninggikan kalimat tauhid, maka dia telah memperoleh mutiara yang paling berharga dan mulia; al-ashr.

Kemudian, tentu kita bertanya-tanya, mengapa Allah bersumpah dengan sesuatu yang sangat berharga ini. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh manusia baik mukmin maupun kafir. Jawabnya pada ayat selanjutnya sebagai jawabul qasam (jawab sumpah).

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Coba diperhatikan; depag mengartikan dengan “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”, kemudian mari kita sempurnakan terjemahannya.

Ayat ini memiliki dua tau’kid (penguat) yaitu; inna (yang artinya sesungguhnya) dan la taukid (dalam la-fi yang artinya benar-benar atau sungguh).

Al-insana, artinya manusia (itu), di sini ada al ma’rifah (al) yang memiliki fungsi sebagai al lijinsi (menyeluruhkan, mengglobalkan). Jadi al-insana artinya: seluruh/semua manusia.

Maka terjemahan yang lebih sempurna yaitu:

Sesungguhnya seluruh manusia (tanpa terkecuali) itu benar-benar dalam kerugian.

Jika kita sambungkan dengan ayat 1 maka kita akan mendapatkan tiga taukid (penguat), yaitu:

1.Taukid pertama adalah harfu qassam(wa/wawu), sumpah.
2.Taukid kedua adalah harfu inna, sesungguhnya.
3.Taukid ketiga adalah harfu la taukid, benar-benar/sungguh.

Dalam kalimat yang sangat pendek Allah mengumpulkan tiga taukid, pasti ada sesuatu yang besar dibalik semua ini.

Sebab, taukid dipakai jika seseorang mengingkari penjelasan atau perkataan kita. Misal; ana berkata pada teman saya yang bernama Umar,  “Fulan telah datang”.

Ana memberikan informasi kepada Umar bahwa si fulan telah datang dari kampungnya.

Tapi ternyata Umar mengingkari dan menyatakan kabar itu salah, padahal ana benar-benar telah mengetahui fulan telah datang bahkan bertemu langsung. Umar tidak mempercayai ana.

Untuk menguatkan kebenaran info, ana susun kembali kalimat informasif dengan menyertakan taukid; “Sesungguhnya fulan telah datang”.

Lagi-lagi Umar tidak percaya dan mengingkari kembali, maka ana susun kembali dengan menyertakan dua taukid, “Sesungguhnya fulan benar-benar telah datang”.

Tanpa diduga, alih-alih Umar mau percaya perkataan ana, justru dia maka menganggap ana dusta. Akhirnya ana katakan dengan tegas dan nada tinggi, “Demi Allah, sesungguhnya fulan telah datang”.

Ana bersumpah untuk lebih menegaskan dan menguatkan informasi ana.

Dari permisalan diatas, kalimat taukid diberikan jika kalimat tersebut di ingkari. Semakin kuat pengingkaran maka taukidnya juga akan semakin kuat untuk menandingi pengingkaran tersebut.
Dalam ilmu ma’ani, dianggap aneh apabila kita bertemu dengan teman dan ingin mengabarkan ada kebakaran di pasar dengan menyatakan, “Demi Allah, sesungguhnya pasar benar-benar telah terbakar”. Padahal belum ada seorangpun yang menginkarinya. Jadi ta’kid itu diberikan jika ada pengingkaran.

Sebab itu, surat al-ashri ini pastilah berupa jawaban telak bagi manusia-manusia yang telah mengingkari. Pengingkaran terhadapa apa? Terhadap jawabul qasam (ayat 2, yaitu pernyataan Allah seluruh manusia dalam kerugian)

Ya, orang musyrik dan kafir termasuk munafikin dan murtadin, dengan virus kesyirikan dan pembelotan mereka pada risalah, ternyata mengklaim sebagai ashabun najah (golongan yang selamat). Mereka merasa yakin bahwa merekalah manusia-manusia yang mendapat petunjuk dan apabila mereka nanti mati, mereka akan bahagia masuk surga.

Kelompok liberal, ahmadiyah, penolak syareat Islam yang telah nyata-nyata sesat pun menganggap kesesatan mereka sebagai kebenaran dan diridhai Allah. Mereka semua berkata:

وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰ

“Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan yang berlimpah pada sisi-Nya”. (fussilat: 50)

Mari kita teliti kembali susunan kalimat ini. Mereka dalam mengungkapkan penolakan kekafiran dan jahanam sebagai tempat kembali mereka dengan tiga taukid, yaitu:

1.La taukid dalam la-in
2.harfu Inna
3.La taukid dalam lal husna

Subhanallah, pengingkaran mereka bahwa diri mereka pembelot risalah dan pengingkaran bahwa mereka bukan orang yang rugi, mereka sampaikan dengan tiga taukid sekaligus. Justru malahan mereka menuduh kaum mukminin sebagai orang-orang yang rugi, aliran sesat !

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. (Al-Mutafifin: 32)

إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata” (Al-A’raf: 60)

Pernyataan keliru musyrikin dengan gaya susunan kalimat dalam surat fusilat 50 ini kemudian ditandingi oleh susunan kalimat dalam surat al-ashri.

وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰ

Ada tiga taukid

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Ada tiga taukid

Pernyataan musyrikin ini dipatahkan dengan telak dengan gaya surat al-ashri, bahkan taukid dalam al-ashri lebih tegas karena adanya wawu qasam (sumpah). Allah bersumpah dengan tiga sumpah sekaligus yaitu; zaman, umur dan waktu.

Kemudian tatkala muyrikin menyatakan mereka adalah golongan yang beruntung sedang mukminin adalah golongan yang merugi, maka Allah dengan tegas menyatakan bahwa SELURUH manusia dalam kerugian tanpa terkecuali. Pada ayat 2 ini orang musyrik dibuat bingung. Seluruh manusia rugi, berarti termasuk golongan mukmin juga rugi. Lah bagaimana ini? Kok bisa tidak ada satupun golongan yang beruntung?

Inilah termasuk salah satu gaya kekuatan bahasa Al-Qur’an, membuat orang terkejut sehingga mereka bertanya-tanya dan menyiapkan diri menyimak perkataan Allah selanjutnya:

إِلَّا الَّذِينَ

(Seluruh manusia rugi) kecuali orang-orang yang….
1.Beriman (maknanya berilmu)
2.Beramal shalih
3.Berdakwah
4.Sabar dalam ujian dakwah

:) wallahu alam

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: