Kekuatan Makna Hamdallah (2)


Di risalah pertama, kita telah mengetahui kuatnya pemilihan kata الحمد, sekarang kita mencoba meneliti mengapa Allah memilih menggunakan isim, lebih tepatnya isim mashdar? Kenapa Allah tidak menggunakan fi’il?

Allah berfirman dengan الحمد لله, kenapa tidak berfirman dengan أحمد الله (fi’il mudhari mengandung fa’il dhamir ana, artinya aku memuji dengan pujian الحمد kepada Allah) atau نحمد الله (fi’il mudhari mengandung fa’il dhamir nahnu, artinya kami memuji dengan pujian الحمد kepada Allah)?.

Bahwasanya jika pujian الحمد dibuat dengan fi’il, maka pujiannya itu terbatas pada pujian yang dilakukan oleh si pelaku (fa’il/subjek).

أحمد الله artinya Aku memuji dengan pujian الحمد pada Allah. Belum tentu orang lain ikut memuji Allah.

نحمد الله artinya Kami memuji pada Allah, belum tentu selain kami ikut memuji-Nya.

Sedang isim الحمد tidak berkaitan dengan fi’il orang tertentu, semuanya memuji, baik aku, kita dan semua makhluk yang ada turut memuji. Sebab itu pemilihan kata dengan isim mashdar lebih kuat daripada fi’il.

Kemudian perkataan dengan fi’il seperti أحمد الله, juga mengandung arti belum tentu yang dipuji itu memang memiliki hak atau layak untuk dipuji dengan pujian الحمد(dan Maha suci Allah dari semuan ini). Lebih jelasnya sebagai berikut:

أحمد فلانا (Aku memuji dengan pujian الحمد pada si fulan), padahal menurut orang lain si fulan sebetulnya tidak pantas untuk dipuji dengan pujian الحمد, sebab fulan memiliki sifat-sifat tercela.

Jadi jika pujian disusun dengan kalimat fi’il maka pengakuan pujiannya itu relatif.

Kemudian fi’il itu terkait dengan suatu zaman tertentu, fi’il madhi terkait dengan perilaku yang lampau (past tense) sedangkan mudhari’terkait dengan masa yang akan datang. Tetapi jika dengan isim maka tidak terkait dengan waktu dan zaman. Pujian الحمد bagi Allah mutlaqah ghairu muqoyad, pujian mutlak tidak terikat oleh zaman tertentu tetapi awal dan kekal.

Dalam tafsir Ar-razi dikatakan الحمد لله :

Sesungguhnya Dia terpuji dengan pujian الحمد pun sebelum para pemuji dengan pujian الحمد tersebut memuji-Nya, sebelum orang-orang yang memuji dengan الشُكْرُitu mengucapkan pujian syukurnya. Sama saja para hambanya memuji atau tidak, maka Dia Ta’ala tetaplah terpuji dengan pujian الحمد, sejak zaman azali sampai berabad-abad mendatang. Pujian الحمد-nya kekal abadi dan firman-Nyapun kekal abadi.

Kalimat أحمد الله merupakan jumlah fi’liyah sedangkan Kalimat الحمد لله merupakan jumlah ismiyah.

Jumlah fi’liyah menunjukkan waktu kejadian tertentu sedangkan jumlah ismiyah menunjukkan sesuatu yang tetap, tidak berubah atau tsubut. Karena itu pemilihan kalimat ini menggunakan jumlah ismiyah lebih kuat dari pada dengan jumlah fi’liyah, sebab menunjukkan tetap dan langgengnya pujian.

Jadi makna الحمد لله dilihat dari susunan jumlahnya (yaitu jumlah ismiyah) yaitu:

Sesungguhnya pujian الحمد adalah hak Allah, dan Dialah yang paling berhak menyandang pujian ini pada zat-Nya. Sesungguhnya Dia terpuji dengan pujian الحمد pun sebelum para pemuji dengan pujian الحمد tersebut memuji-Nya, sebelum orang-orang yang memuji dengan الشُكْرُitu mengucapkan pujian syukurnya. Sama saja para hambanya memuji atau tidak, maka Dia Ta’ala tetaplah terpuji dengan pujian الحمد, sejak zaman azali sampai berabad-abad mendatang. Pujian الحمد-nya kekal abadi dan firman-Nyapun kekal abadi.

Walhamdulillah hamdan katsiran

About these ads

3 Balasan ke Kekuatan Makna Hamdallah (2)

  1. bogoreducare3d mengatakan:

    aslm.

    mau nanya…
    sebenarnya pengucapan hamdalah dalam surat alfatihah saat mendirikan sholat harus dikeraskan/dipelankan atau tidak di ucapkan sama sekali???

    sukron…

    wass…

  2. bogoreducare3d mengatakan:

    aslm.

    mau nanya…
    sebenarnya pengucapan hamdalah dalam surat alfatihah saat mendirikan sholat harus dikeraskan/dipelankan atau tidak di ucapkan sama sekali???

    dan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah kita,,, akhi bisa kunjungi situs kami di

    http://seputarbec.wordpress.com

    sukron…

    wass…

  3. alghaits mengatakan:

    Wassalam.
    Yang diperselisihkan adalah masalah jahr dan tidaknya pengucapan bismillah bukan pada pengucapan hamdallah.

    Ana dah kunjungi situs Antum,semoga ukhuwah kita dapat terjalin lebih erat.

    Jazakumullah

    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: