Rakaat Shalat Terawih
Pertanyaan:mohon info nih mengenai sholat Tarawih, soalnya di tempat saya ada
yg 20 dan 8 rakaat .
pertanyaan saya,
1. yg harus saya ikuti yg mana ?
2. dan apakah ada aturan yg mengatur tentang banyaknya rakaat dalam alqur’an
/ hadist.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelum menjawab pada pokok pertanyaan seputar shalat terawih, ana
ingin menyampaikan muqodimah-muqodimah penting yang sangat mendukung
dalam memahami jawaban tersebut, wa nastainu billah
Baca selebihnya »
Bentuk Daulah dalam Kacamata Ahlu Sunnah
Ikhwani rahimakumullah
Tulisan ini sebagai pembanding sekalipun tidak menyeluruh dari tulisan Prof DR Ahmad Mubarak MA di blog beliau http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/07/daulah-islamiyyah-daulah-al-muslimin.html
Sayangnya ana bukan DR lagi Prof, tentunya banyak kekurangan dalam penjelasannya.
+++
Khilafah menurut definisi bahasa adalah Al-Imarah (organisasi) atau wakil dari yang lain atau Al-Imamah (kepemimpinan). Menurut Imam Nawawi rahimahullah, al-imamah dan khilafah adalah sama maknanya.
Berkenaan dengan wujudnya khilafah, terjadi perbedaan di kalangan muslimin saat ini.Sebagian kalangan menganggap khilafah tidak wajib, dengan alasan tidak ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah melainikan hanya ijtihad para fuqaha.
Baca selebihnya »
Rahasia Pengulangan Nakirah dalam satu Kalimat
Firman Allah dalam surat Ar-Rum: 54:
الله الذي خلقكم من ضعف ثم جعل من بعد ضعف قوة ثم جعل من بعد قوة ضعفا وشيبة يخلق ما يشاء وهو العليم القدير
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Kaedah: Jika nakirah yang sama diulang-ulang dalam satu kalimat, maka nakirah tersebut mempunyai arti yang berbeda-beda.
Baca selebihnya »
Kekuatan Makna Hamdallah (4)
Terdapat beberapa susunan kalimat lain yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang (atau mungkin tidak) memiliki pengaruh kedalaman makna, namun andai ditelisik dalam bahasa Arab memiliki kekuatan bahasa dan bayan yang berbeda. Sususan tersebut yaitu:
الحمدَ لله (manshub)
حمداً لله
Mari coba kita kaji satu persatu, semoga kita dengan rahmat-Nya memperoleh pemahaman lebih mengenai sifat Maha Teliti Allah dalam pemilihan kata dan susunan kalimat firman-Nya ta’ala.
Mengapa Allah tidak berfirman الحمدَ لله?
Sebab bacaan الحمدُ لله dengan rafa’ lebih memiliki kekuatan dari pada nashab. الحمدُ لله tersusun dari jumlah ismiyah sedang الحمدَ لله tersusun dari jumlah fi’liyah yang mengandung (muqadarah) fi’il yaitu نحمد atau أحمد atau إحمدوا (amr). Sebelumnya telah kita pelajari bahwa jumlah ismiyah lebih kuat dari pada jumlah fi’liyah.
Mengapa Allah tidak berfirman حمداً لله
Sebab, الحمدُ لله adalah isim ma’rifah dengan “al”, sedang حمداً adalah nakiroh. Fungsi ma’rifat “al” disini sebagai penetapan pujian yang tidak bisa diingkari. Pujian-Nya tidak bisa diingkari. Maka maknanya yaitu: Pujian الحمدُ telah kalian ketahui yaitu Allah. Kalian telah mengetahui pujian الحمدُ itu bagi Allah, kalian tidak bisa mengingkarinya sekalipun di antara kalian berusaha mengingkari (naudzubillah dan Maha Suci Allah).
Ma’rifat “al” juga berfungsi lil-istighraq, maknanya seluruh/semua/sekabeh-kabehe pujian bagi Allah.
حمداً nakiroh, pujian ini tidak mengandung penetapan dan bisa diingkari. حمداً juga tidak memiliki fungsi al-istighraq.
Pemilihan kata dan susunan الحمدُ لله merupakan pemilihan yang paling kuat, subhanallah…
Hamdallah dan Ma’aninya (3)
Hamdallah dan Ma’aninya (3)
الحمد لله , pemilihan kata “lafdzul jalallah Allah”, yaitu khabarnya dengan menggunakan isim ‘alam.
اللَّهِ adalah nama Allah yang paling agung dan selain-Nya tidak berhak menyandang, memiliki nama ini. Allah berfirman:
هل تعلم له سميا
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama namanya dengan Dia? (QS. Maryam 65)
Baca selebihnya »
Kekuatan Makna Hamdallah (2)
Di risalah pertama, kita telah mengetahui kuatnya pemilihan kata الحمد, sekarang kita mencoba meneliti mengapa Allah memilih menggunakan isim, lebih tepatnya isim mashdar? Kenapa Allah tidak menggunakan fi’il?
Allah berfirman dengan الحمد لله, kenapa tidak berfirman dengan أحمد الله (fi’il mudhari mengandung fa’il dhamir ana, artinya aku memuji dengan pujian الحمد kepada Allah) atau نحمد الله (fi’il mudhari mengandung fa’il dhamir nahnu, artinya kami memuji dengan pujian الحمد kepada Allah)?.
Bahwasanya jika pujian الحمد dibuat dengan fi’il, maka pujiannya itu terbatas pada pujian yang dilakukan oleh si pelaku (fa’il/subjek).
أحمد الله artinya Aku memuji dengan pujian الحمد pada Allah. Belum tentu orang lain ikut memuji Allah.
نحمد الله artinya Kami memuji pada Allah, belum tentu selain kami ikut memuji-Nya.
Kekuatan Makna Hamdallah (1)
Dalam bahasa Arab, kata yang mengandung arti pujian ada beberapa diantaranya adalah الحمد dan المَدْحُ serta الشُكْرُ. Namun ketiganya memiliki arti khusus masing-masing dan penggunaannyapun berbeda. Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata seperti ini, semuanya diartikan sebagai “pujian” kecuali الشكر yang diartikan terima kasih atau syukur.
Karenanya terjemahan ayat “Alhamdulillah” dalam Al-Qur’an terjemahan Depag hanya diterjemahkan dengan “Segala puji bagi Allah”. Padahal ada makna yang lebih dalam dan khusus pada kata الحمد yang sebetulnya tidak bisa diterjemahkan dengan “pujian” saja, kurang pas dan kurang membekas pada jiwa.
Baca selebihnya »
Soal Jawab Seputar Urgensi Bahasa Arab
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang dikenal oleh manusia dan satu-satunya bahasa yang paling berkembang dan cepat penyebarannya. Sekalipun tata bahasanya demikian lengkap namun sangat mudah dipelajari. Karakter unik yang khusus yang dimilikinya menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa pilihan bagi Kitab Suci yang paling mulia. Berikut kami untaikan sedikit tentang urgensi bahasa Arab dengan format tanya jawab.
| Bagaimana kedudukan bahasa Arab di mata Islam, dan apakah berbicara dengan bahasa pengantar ini termasuk ashabiyah (fanatisme golongan), atau apakah bahasa Arab memiliki kedudukan yang mulia dibandingkan bahasa lain? |
Bahasa adalah wasilah untuk berkomunikasi, hanya itu. Demikian pula bahasa Arab, hanyalah sebuah wasilah untuk komunikasi sosial tetapi ada satu kesistimewaan tambahan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, yaitu nilai ibadah.
Keutamaan I’rob Al-Qur’an dalam As-Sunnah
I’rob atau mengi’rob suatu hal yang langka hari ini. Padahal ianya adalah rutinitas para sahabat radhiyallahum ajma’in. Mereka memiliki rumus, tiada hari tanpa qira’atul Qur’an dan tiada hari tanpa meng’irob Al-Qur’an.
Perhatian mereka pada I’rob Al-Qur’an sangatlah dalam, lalu apakah ada ajarannya sehingga para sahabat mementingkan I’rob sedemikian rupa dan kenapa kita jarang bahkan mungkin belum pernah mendengar kebiasaan I’rob para sahabat ini ataupun perintah dan anjuran dari Rasul saw.
Sebelum kita mulakan telaah mini tentang fadhilah I’rob Al-Qur’an baiknya kita tinjau dahulu apa arti I’rob:
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar
